Potret Miring (Bagian 3)/Cerita

By : ichsan tirtonoto
Perasaan hangat apa ini, seumur-umur kedua kalinya aku merasakan ini.
Pecah perasaan dalam hangatnya hujan malam ini, menderuku seakan berkata “kau tak layak mendapatkannya”.
Namun apa dayaku membuka mata saja aku tak sanggup.

Seribu jurus yang aku pelajari tak mampu menggerakkan ragaku.
Semisal ini waktuku mungkin hal ini adalah yang terindah aku rasakan sekarang.
Aku berjalan dalam gelap tanpa arah dan tujuan, semakin gelap dan dalam sampai aku menemukan helaian rambut sebesar dahan patah.
“Apa ini?” Baunya harum sekali seperti kasturi, dimana sebenarnya ini? Bukankah aku sedang tertidur?
Bau itu semakin menusuk indera ku membuat aku seakan terbang.

“Ahh.. ini tenang sekali dan juga hangat”

Perasaan yang aku tak pernah tahu sebelumnya memikat sebegini kuat dan erat.

Tak ingin aku pergi kedalam lagi.

Tapi tiba-tiba aku terdengar suara yang sangat lembut namun bernada keras, yang membuatku terkejut.
“Hoooiiii” kudatangi arah suara itu sampai jauh.

Namun tanpa aku sadari kaki ini seperti tidak menyentuh sesuatu pijakan yang semestinya.
“Ahh” lolongku terjatuh dalam dimensi tanpa ujung sehingga aku tak tau kemana dan bagaimana berhentinya!.

Seketika aku tersentak dan dengan sayup membuka mata ini.

Penglihatanku kabur memburam seperti air terkena bias cahaya.
“Kau sudah siuman?” Syukurlaah.

Ku rasakan getaran suara merdu itu yang sedikit agak parau meresap, namun penglihatanku masih buram.
Aku masih menerawang jauh dalam keadaan berbinar, tanganku seperti terikat dalam lembutnya kekhawatiran yang dalam.

Semakin jadi penglihatanku terasa tergambar samar wajah seseorang yang aku lupakan namanya.
Tapi aku merasa dia tak seorang diri juga hujan tiada berhenti .

Banyak kesalahan yang membuat aku terlarut juga merepotkan.

Aku tidak tau apa saja yang sudah dikorbankan orang-orang ini kepadaku.
Bibirku membeku seribu bahasa, tak pantas ku merasa ini kesalahan rasaku.

Ketika bibir ini mulai merasa, aku hanya bisa mengucapkan maaf.
Tanganku semakin erat terikat seperti ular hendak menggiling korbannya. Entah mengapa aku tak merasakan sakitnya.
Aku kuatkan ragaku untuk bangkit, seketika mereka semua memelukku.

“Ada apa ini?” Tanyaku terkejut

” kami kira sudah tidak akan mendapatkanmu kembali” jawab mereka tersendu

“Aku tetap disini kok” jawabku tersenyum

Dan aku percaya bahwa mereka inilah sumber hangat tadi.