Potret Miring (Bagian 1)/ Cerita

By : ichsan tirtonoto

Sudah 5 tahun berlalu, aku tiba-tiba teringat kau bagai angin menembus memori lama yang menyambar otakku. Sampai aku lupa beberapa tahun bahwa pernah kuselipkan kata-kata indah dalam nadaku yang berantakan untukmu, semisal kau mendengarnya hanya kata maaflah yang akan ku berikan.
Aku merasa aneh dan tak percaya sedang kenapa hati dan fikiranku ini,  padahal selalu dalam dinginnya gunung es yang berkabut tanpa jarak.
Apakah aku merasa dan mungkin saja aku mengecapkan rasa rindu??

“Ah tidak mungkin seorang sepertiku merindu!? Dalam hidupku selalu merasa aku memiliki batas dengan sesama manusia dibumi ini.

Namun dengan gampangnya kau menebasku dalam tatapan kejora itu!, perih kurasa batin serasa menderu keras, tanpa ampun, tanpa sebab karang-karang itu mulai berjatuhan.
Kudengar lagi nada yang kubuat untukmu agar aku dapat memutar memori itu.

Pada akhirnya pun ku tak dapat menerka wajahmu, hanya saja cerita derita kelam berselimut awan gelap tanpa ujung.
Kau ceriterakan kisah bermainmu pada pantai yang kududuki ini, begitu gembira dan senangnya, seakan kau takperduli hari esok hahaha.
Ku tatap gerak air wajahmu terkadang menyeka keringat panas mentari senja itu, ya kurasa ada benarnya apa yang kau katakan.

“Jangan terlalu lama kau seperti itu nanti kau tenggelam dalam dirimu sendiri katanya.

kau curang dalam berkata seakan aku tak mengerti itu, bathinku.

“Haha aku balas dengan tawaan khasku yang terang menusuk.

Tapi memang aku tak mengerti, kata-katanya waktu itu baru dapatku serapi sekarang.
Aku mencoba mencari dalam tarian fikiranku, tetap aku hanya mengingat namamu dan cerita bahagiamu.

Ketika senja pamit aku kembali untuk mengerakan kewajibanku.

Kulihat kau yang duduk termenung memandangi rembulan dari kejauhan, ah peduli apa aku merusak keindahan itu, fikirku.
Selesai kewajibanku, aku mendatanginya dari arah kegelapan sinar rembulan, pertama kalinya aku terpana sejadinya menatap gelombang rambut merah jagung yang bersinar mengkilap mendapati cahaya.
“Hei kenapa kau termenung, bukannya kau sangat senang tadi??

“Percuma katanya aku sudah berusaha keras!! Dengan tatapannya yang kosong dan penuh kepedihan.

“Apa aku melukai perasaanmu??, maaf!! Jawabku bingung.

Kulihat kejora itu mulai menahan amukan ego yang akan meledak sejadinya, yang aku tak tahu kenapa terjadi.

“Bodoh!!aku memang bodoh!! Kenapa kuteruskan hal ini hanya untuk membangkitkan memori itu, isaknya.

Gawat!!, bathinku mulai goyah dalam deburan ombak yang menggila kala itu.

“Kau kenapa?? Sial!! Kenapa masih aku tanya, bathinku.

Tiba-tiba dia diam dan mulai menatapku seakan ada sesuatu yang akan disampaikannya.

Jujur saja aku mulai panik dan banyak berfikir negative akan hal ini, apa lebih baik aku pergi saja, atau jangan-jangan aku lupa??ada baiknya aku bertanya tentang apa yang aku fikirkan dari awal bertemu.

“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?

“Kau bohong!!!

” he?? Aku jadi tambah bingung

” ya kau bohong!! Memulai tangisnya lagi, kenapa kau jadi sedimikian keji kesemua manusia??

” aku?? Keji?? He?? Semua manusia??

Aku bingung tiba-tiba perasaannya berubah secara tiba-tiba.

Aku tau mesin penghancur jiwa itu akan bergerak lagi dan kuingin ini agar terlaksana membangun tembok yang lebih kuat.

“Perasaan dinginmu itu, es yang menjulang itu semakin tinggi aku rasa, katanya.

Aku terdiam tanpa suara hanya menatapnya. Aku akui sepertinya, mata itu, kebiruan itu mulai aku dapati alurnya.

Kehadirannya bukan tanpa disengaja, memang sudah dialirkan begitu.

Ya dalam lirihku, aku memang si gunung es itu dia mengatakan semua hal yang benar tentang diriku. Tapi tunggu dulu darimana asal muasal kata itu??

Semakin mantap aku yakin kami pernah bertemu sebelumnya.

Pipinya makin merah merona setelah tangisnya itu, kudapati dia kembali pada posisinya. Aku beranikan diri berbaring disampingnya sambil menatap bintang malam itu.

“Coba kau lihat semua bintang itu! Pintaku

Dia pandangi dengan mendongakan kepalanya ke atas langit berawan, sesekali menyeka air mata.

“Dimana ada bintang??

“Coba perhatikan baik-baik, pekik ku

“Aku tak melihatnya sama sekali. Jawabnya

“Ego sudah memakan jiwamu, sehingga kau tak tampak bintang-bintang itu.

“Apa maksudmu ??, dia mulai bangkit memandangku.

Dia terkejut menatapku yang tidak membuka mataku saat berkata bintang

“Dari mana asal bintang itu sedangkan kau menutup kedua matamu??

“Imajinasi, jawabku singkat

“Ha?haha, dia mulai tertawa seakan dunianya kembali dan mulai mengikutiku.

Aku melihat kabut matanya mulai menghilang, seakan lupa tentangku.

“Bagaimana diriku pada saat itu?

“Apa mungkin aku bisa melakukannya lagi?

“Tidak, kau penghibur mudah berkata dan tersenyum.

“Sedangkan kini kau banyak berimajinasi untuk alam kau seorang.

“Baiklah, kau memang benar tapi aku lupa.

“Itu sebabnya aku kemari, mencoba menggali pada memori yg sama katanya